Masjid Nabawi

Masjid Nabawi
يا سيدي يا رسول الله يا سيدي يا رسولَ الله - يا من له الجَاهُ عند الله إنّ الْمُسِيْئِيْنَ قدْ جَاءُوك - بالذّنْبِ يَسْتَغْفِرُونَ الله يا سيّد الرُّسْل هَادِيْنـا - هَيـّا بِغَارة إِلَيْنا الآن يا هِِمَّة السّادات الأقْطاَب- مَعَادِن الصِّدْقِ والسِّرّ نَادِ المُهَاجِرصَفِيّ الله -ذاك ابْنُ عيسى أبَا السَّادات ثُمّ المُقَدّم ولِيّ الله - غَوْث الوَرَى قُدْوَة القَادات ثمّ الوَجِيْـه لِديْنِ الله - سَقّافَنا خَارِق الْعَادَات والسّيّد الكامِل الأَوّاب - العَيْدرُوس مَظْهَر القُطْر قُومُوا بِنا واكْشِفُوا عَنّا - يا سَاداتِي هذِه الأَسْوَ وَاحْمواُ مَدِيْنَتْكُم الغَنَّا - مِنْ جُمْلةِ الشَّرّ والْبَلْوَى

Selasa, 29 Juni 2010

Mengenal Sultan Buton II

Agama Islam, Tertinggi dalam Falsafah Perjuangan Masyarakat Buton

Masyarakat Buton yang dikenal memiliki prinsip hidup yang kuat sudah terpatri sejak zaman kesultanan. Bahkan, fanatisme yang digambarkan dalam falsafah hidup juga telah menjadi modal dalam menata sendi sendi peri kehidupan.

Bagaimana Buton yang dikenal dengan seribu satu misteri dalam prinsip hidup menjadi sebuah sumber kekuatan dalam menangkal berbagai bentuk rintangan?. Bagaimana falsafah Hidup masyarakat Buton sehingga menjadi sebuah sumber kekuatan dalam segala sisi kehidupan?
.
Dalam sejarah perjuangan masyarakat Buton sejak peralihan Kerajaan menjadi Kesultanan, banyak rintangan yang dihadapi.
Kekalahan panglima Perang Tobelo (La Bolontio) oleh Sultan Buton I Murhum atau Laki Laponto menjadi titik nol sejarah lahirnya Kesultanan Buton sejak lehadiran Syaikh Maulana Sayid Abdul Wahid mengajarkan Syariat Islam di negeri Butuuni pada abad ke-13.

Penobatan Murhum sebagai Sultan I yang menandai peri kehidupan berlandaskan Islam tidak serta merta berjalan mulus.
Kekalahan Labolontio menuai dendam Kesultanan Ternate untuk menuntut balas. Kondisi ini tercatat dalam lembaran sejarah Buton di masa pemerintahan Sultan I Murhum yang dilantik pada tahun 1558 yang sebelumnya telah dilantik menjadi raja ke-6 pada 1538. Kala itu Sultan Murhum mengumumkan keadaan ‘Berkabung’ bagi negeri Buton yang dikenal dengan “Ya Barataamo yo Lipu” artinya negeri dalam keadaan genting atau darurat.

Peristiwa ini ditandai dengan kehadiran pasukan Tobelo dari kesultanan ternate yang ingin menggempur Buton dibawah pimpinan Sultan Baabullah. Di saat yang bersamaan Buton juga tengah menghadapi ancaman dari Kapal Perang Belanda.
Pasukan ternate ketika itu telah mengelilingi perairan sebelah utara Buton yang kini diabadikan dengan nama sebuah daerah yakni “Labuantobelo” artinya pelabuhan pasukan perang Tobelo.
Kondisi darurat itulah yang mengilhami terbentuknya 4 kerajaan Barata yang memperkuat barisan pertahanan Buton yakni Kaledupa, Tiworo, Muna dan Kulinsusu. Empat kerajaan barata ini diberi hak otonom untuk menangkal setiap serangan musuh yang dipimpin seorang Lakina (pemimpin setingkat raja).

Pada saat itu pula Sultan mengangkat dua orang kepala angkatan perang (Kapitalau) yang diberi tugas mengamankan kawasan barat (Kapitalau Sukanaeyo) dan timur (Kapitalau Matanaeo). Kapitalau Matanaeo diangkat La Kabaura dan Kapitalau Sukanaeyo diangkat Ketimanuru.

Di satu sisi, Buton menghadapi ancaman dari Tobelo dan di sisi lain juga menghadapi serangan dari Belanda. Saat itulah Sultan juga mengumandangkan beberapa untaian kalimat yang dikenal sebagai Falsafah Perjuangan Islam Buton yakni “Yinda Yindamo Arataa somanamo Karo artinya Korbankan harta demi keselamatan jiwa”, Yinda Yindamo karo somanamo Lipu artinya Korbankan Jiwa demi keselamatan negara”, Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara artinya Korbankan negeri demi keselamatan pemerintah” dan Yinda Yindamo sara somanamo Agama artinya korbankan pemerintah demi keselamatan Agama”. Agama menempati posisi tertinggi setelah pemerintah, negeri, jiwa dan harta.
Dalam berbagai literatur sejarah menjelaskan, jika kejayaan Negeri Buton tetap dipertahankan agar seluruh pemimpinnya mengedepankan persaudaraan. Sebab, dengan persaudaraan akan muncul persatuan dan kesatuan. Ada pula yang mengharapkan bahwa setiap pemimpin di negeri Buton untuk mengedepankan Agama dalam menjalankan pemerintahan. Dengan cara tetap menyelaraskannya dengan tetap menjunjung tinggi budaya yang bernafaskan Islam.

Itulah sebabnya, Buton dan seluruh masyarakatnya meyakini jika kekuatan yang maha dahsyat hanya dari Sang Pencipta. Hal ini dapat diperoleh dengan semangat persaudaraan yang menyeimbangkan penerapan Budaya lokal warisan leluhur dalam nuansa Islam sebagaimana para pendahulu negeri ini menata kehidupan dengan bentuk pemerintahan Kesultanan yang identik dengan Islam. Oleh sebab itulah faktor Agama menjadi hal yang paling utama dalam falsafah perjuangan masyarakat Buton…..***

MAKNA SIMBOLIS PADA ISTANA MALIGE BUTON

Potensi Kebudayaan di Sulawesi Tenggara memang tiada duanya, namun pada kesempatan ini, opini yang bernuansa penelitian ini, hanya dibatasi pada makna simbolis Istana Malige di Buton.
Peninggalan dari Peradaban Buton masa lampau, sungguh memukau dan beraneka ragam. Tidak mengherankan jika banyak orang berkeinginan untuk mengenal Buton lebih dekat, baik secara harfiah, ilmu pengetahuan, pemerintahan, politik dll, hingga pada kebutuhan bathin seseorang yang dalam rangka proses kehidupannya, ingin mendalami dan mempelajari ilmu tauhid dan agama Islam tarekat yang terkenal itu…?. Dan sebaliknya banyak pula orang, kelompok, bangsa dan sindrom yang sengaja ingin menghancurkan serta memfitnah Buton sekaligus membunuh karakter manusianya…? Hem……
Daerah seribu pulau, seribu benteng dan istilah seribu lainnya, adalah julukan Pulau Buton yang secara geografis terletak pada garis lintang dari utara ke selatan antara 20⁰30’ – 125⁰ Bujur Timur, merupakan kawasan timur jazirah tenggara Pulau Celebes/Sulawesi.
Menurut referensi serta pengakuan sejarah dari berbagai sumber, Kerajaan/Kesultanan Buton merupakan wilayah otonom dan merupakan kawasan mandiri yang memiliki keistimewaan tersendiri. Karakter budaya dan pola pikir dari masyarakatnya yang cerdas, inovatif serta mampu bertahan adalah dasar mengapa mereka pandai berdiplomasi, berwatak keras, dan cerdik sehingga jangan diherankan apalagi sampai dipolemikkan bahwa; “Di masa lalu, Kerajaan/Kesultanan Buton, tidak pernah tunduk dan dikuasai, apalagi terjajah oleh bangsa manapun di dunia dan kerajaan lain di nusantara”. Jika dikatakan kerjasama/hegemoni dengan bangsa atau kerajaan lain, Buton melakukannya, karena memang tipe kerajaan ini terbuka pada siapapun dan kebersahajaannya yang selalu ingin bersahabat, menolong dan bermitra dalam berbagai bidang adalah keutamaan dan kewajiban kerajaan, demi menciptakan kesejahteraan dan keamanan masyarakatnya.
Ibarat prasasti dan goresan profil pada candi-candi di Jawa, yang mengkisahkan berbagai hal dan peristiwa, sesuai yang tertuang dalam babad tanah jawi, Buton pun memiliki kisah yang tak kalah menariknya. Eksistensi dari nilai-nilai serta kearifan budaya dan peradaban Buton masa lalu, masih dapat disaksikan pada persebaran lambang/simbol maupun rangkaian ragam hias di berbagai pelosok kadie/kerajaan-kerajaan kecil yang mengakui keberadaan Kerajaan/Kesultanan Buton. Wilayah 72 (tujuhpuluh dua) kadie terletak di seluruh kepulauan dan daratan Buton. Kini kadie menjadi referensi dan oleh parah ahli arkeologi; wilayah kadie dikategorikan sebagai situs pemukiman sekaligus sebagai bukti konkrit bahwa Buton masa lalu memang Raya dan Jaya.
Seluruh lambang atau simbol yang dimaksud, melekat cantik di berbagai benda/artefak peninggalan Kerajaan/Kesultanan Buton. Salah satu benda yang kaya akan makna simbolis baik konstruktif maupun dekoratif itu adalah Kamali/Istana Malige.
Kamali/Istana Malige (berarti pula Mahligai) adalah salah satu dari peninggalan arsitektur tradisional Buton, dapatlah dikatakan sebagai hasil dan kekayaan dari proses budaya (cultural process). Dalam hal ini Kamali/Istana Malige merupakan sebuah artefak yang keberadaannya dapat mengungkap berbagai sistem kehidupan masyarakat pendukungnya, baik itu mengenai sistim sosial maupun kepercayaan (religi) yang masih bertahan hingga sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, fungsi dan makna simbolis pada bangunan tersebut dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat secara keseluruhan tentang konsep tasawuf, yang menganggap bahwa pemilik kamali/istana Malige, dalam hal ini Sultan adalah replikasi dari wajah Tuhan (Allah) yang wujudnya dianalogikan dalam bentuk arsitektur rumahnya (istananya) baik yang bersifat konstruksi maupun dekorasi. Bentuk lantai dan atapnya yang bersusun menunjukkan kebesaran dan keagungan Sultan. Bentuk tersebut juga menggambarkan fungsi Sultan sebagai pimpinan agama, pimpinan kesultanan serta pengayom dan pelindung rakyat. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh beberapa ahli tafsir/hadist yang mengarah pada sabda Nabi Muhammad, SAW yang termuat dalam tafsir Kanzil-Umal. Hadist ini mempertegas tentang fungsi dan tanggung jawab Sultan sebagai amiril mu’minin.
Istana Malige, kamali dan atau rumah masyarakat biasa di Buton pada dasarnya adalah sama sebab berasal dari satu konstruksi yang sama yang disebut banuwa tada. Di katakan istana/kamali jika bangunan tersebut di huni oleh pejabat kerajaan/kesultanan, dengan menambahkan tiang penyangga di setiap sisi bangunan, berfungsi konstruksi yang disebut kambero (kipas), lengkaplah di sebut kamali karena di sebut banua tada kambero, inilah yang membedakannya dengan rumah masyarakat biasa yang cukup disebut dengan banua tada.
Satu hal yang menarik pada rumah pejabat kerajaan/kesultanan dengan masyarakat biasa adalah peninggian lantai rumah yang berbeda-beda, peninggian lantai setiap ruangan ini merupakan pola awal konstruksi yang sudah menjadi aturan pokok jika ingin membangun sebuah rumah di Buton. Ruangan semakin kebelakang semakin tinggi sama dengan badan perahu antara haluan dan buritan atau posisi sujud dalam shalatnya seorang Islam. Sedangkan pembagiannya tergantung luas dan besar bangunan. Untuk fungsi dapur dan WC harus terpisah dengan induk bangunan, dan susunan lantainya lebih rendah dari lantai bangunan utama. Pada Kamali/Istana Malige bangunan untuk dapur dan WC di bangun terpisah dan hanya di hubungkan oleh satu tangga. Dapur dan WC secara simbolis adalah dunia luar yang keberadaannya jika dianalogikan pada tubuh manusia adalah pembuangan. Tampak bangunan terbagi 3 (tiga) sebagai ciri 3 (tiga) alam kosmologi yakni, alam atas (atap), alam tengah atau badan rumah dan alam bawah atau kaki/kolong. Masing-masing bagian tersebut dapat diselesaikan sendiri-sendiri tetapi satu sama lain dapat membentuk suatu struktur yang kompak dan kuat dimana keseluruhan elemennya saling kait-mengkait dan berdiri diatas tiang-tiang yang menumpu pada pondasi batu alam, dalam bahasa Buton di sebut Sandi.
Sandi tersebut tidak di tanam, hanya di letakkan begitu saja tanpa perekat. Sandi berfungsi meletakkan tiang bangunan, antara sandi dan tiang bangunan di antarai oleh satu atau dua papan alas yang ukurannya disesuaikan dengan diameter tiang dan sandi. Fungsinya untuk mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan. Penggunaan batu alam tersebut bermakna simbol prasejarah dan pemisahan alam (alam dunia dan alam akherat)/ konsep dualisme, walaupun sebenarnya jika ditinjau dari fungsinya lebih bersifat profan.
Konstruksi lainnya adalah balok penghubung yang harus diketam halus adalah penggambaran budi pekerti orang beriman, sebagai analogi bagi penghuni istana.
Makna simbolis pada konstruksi Kamali/Istana Malige diantaranya adalah:

1. Atap yang disusun sebagai analogi susunan atau letaknya posisi kedua tangan dalam shalat, tangan kanan berada di atas tangan kiri. Pada sisi kanan kiri atap terdapat kotak memanjang berfungsi bilik atau gudang. Bentuk kotak tersebut menunjukkan adanya tanggungjawab Sultan terhadap kemaslahatan rakyat.
2. Balok penghubung yang harus diketam halus adalah penggambaran budi pekertinya orang beriman, sebagai analogi bagi penghuni istana,
3. Tiang Istana di bagi menjadi 3 (tiga) yang pertama disebut Kabelai (tiang tengah), disimbolkan sebagai ke-Esa-an Tuhan yang pencerminannya diwujudkan dalam pribadi Sultan. Kabelai ditandai dengan adanya kain putih pada ujung bagian atas tiang. Penempatan kain putih harus melalui upacara adat (ritual) karena berfungsi sakral. Berikutnya adalah Tiang Utama sebagai tempat meletakkan tada (penyangga). Bentuk tada melambangkan stratifikasi sosial atau kedudukan pemilik rumah dalam Kerajaan/Kesultanan. Tiang lainnya adalah tiang pembantu, bermakna pelindung, gotong royong dan keterbukaan kepada rakyatnya. Ketiga tiang ini di analogikan pula sebagai simbol kamboru-mboru talu palena, yang maksudnya ditujukan kepada tiga keturunan (Kaomu/kaum) pewaris jabatan penting yakni Tanailandu, Tapi-Tapi dan Kumbewaha.
4. Tangga dan Pintu mempunyai makna saling melengkapi. Tangga depan berkaitan dengan posisi pintu depan, sebagai arah hadap bangunan yang berorientasi timur-barat bermakna posisi manusia yang sedang shalat. Pemaknaan ini berkaitan dengan perwujudan Sultan sebagai pencerminan Tuhan yang harus di hormati, dan secara simbolis mengingatkan pada perjalanan manusia dari lahir, berkembang dan meninggal dunia. Berbeda dengan tangga dan pintu belakang yang menghadap utara disimbolkan sebagai penghargaan kepada arwah leluhur (nenek moyang/asal-usul).
5. Lantai yang terbuat dari kayu jati melambangkan status sosial bahwa sultan adalah bangsawan dan melambangkan pribadi sultan yang selalu tenang dalam menghadapi persoalan.
6. Dinding sebagai penutup atau batas visual maupun akuistis melambangkan kerahasian ibarat alam kehidupan dan alam kematian. Dinding dipasang rapat sebagai upaya untuk mengokohkan dan prinsip Islam pada diri Sultan sebagai khalifah.
7. Jendela (bhalo-bhalo bamba) berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara. Pada bagian atasnya terdapat bentuk hiasan balok melintang member kesan adanya pengaruh Islam yang mendalam. Begitu pula pada bagian jendela lain yang menyerupai kubah. dll

Makna simbolis pada Dekorasi Kamali/Istana Malige terbagi dua yakni yang berbentuk hiasan flora dan fauna, diantaranya adalah:

1. Nenas merupakan simbol kesejahteraan yang ditumbuhkan dari rakyat. Secara umum simbol ini menyiratkan bahwa masyarakat Buton agar mempunyai sifat seperti nenas, yang walaupun penuh duri dan berkulit tebal tetapi rasanya manis.
2. Bosu-bosu adalah buah pohon Butun (baringtonia asiatica) mrupakan simbol keselamatan, keteguhan dan kebahagiaan yang telah mengakar sejak masa pra-Islam. Pada pemaknaan yang lain sesuai arti bahasa daerahnya bosu-bosu adalah tempat air menuju pada perlambangan kesucian mengingat sifat air yang suci.
3. Ake merupakan hiasan yang bentuknya seperti patra (daun). Pada Istana Malige Ake dimaksudkan sebagai wujud kesempurnaan dan lambang bersatunya antara Sultan (manusia) dengan Khalik (Tuhan). Konsepsi ini banyak dikenal pada ajaran tasawuf, khususnya Wahdatul Wujud.
4. Kamba/kembang yang berbentuk kelopak teratai melambangkan kesucian. Karena bentuknya yang mirip pula matahari, orang Buton biasa pula menyebutnya lambang Suryanullah (surya=matahari, nullah=Allah). Bentuk ini adalah tempat digambarkannya Kala pada masa klasik, dan merupakan pengembangan Sinar Majapahit pada masa Pra Islam di Buton,
5. Terdapatnya Naga pada bumbungan Atap, melambangkan kekuasaan, dan pemerintahan. Naga adalah Binatang Mitos yang berada di Langit, bukan muncul dari dalam Bumi. Keberadaan Naga mengisahkan pula asal-usul bangsa Wolio yang di yakini datang dari daratan Cina.
6. Terdapatnya Tempayan berlambangkan kesucian. Tempayan ini mutlak harus ada di setiap bangunan kamali maupun rumah rakyat biasa. dll

Kamali/Istana Malige dalam penataan struktur bangunannya, didasari oleh konsep kosmologis sebagai wujud keseimbangan alam dan manusia. Disisi lain keberadaannya merupakan media penyampaian untuk memahami kehidupan masyarakat pada jamannya (kesultanan) dan sebagai alat komunikasi dalam memahami bentuk struktur masyarakat, status sosial, ideologi dan gambaran struktur pemerintahan yang dapat dipelajari melalui pemaknaan lambang-lambang, simbol maupun ragam hiasnya secara detail.
Sangat disayangkan jika keberadaan bangunan maupun pemaknaan simbol tersebut cenderung di abaikan, contoh kasus adalah banyaknya bangunan rumah/gedung permanen (batu dan semen) di lokasi Situs Benteng Keraton Buton dan situs benteng lainnya di daerah ini yang jelas menyalahi konsep pelestarian. Kasus lain adalah keberadaan dari replika rumah adat Malige di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, menyalahi citra/image, karena bangunan tersebut telah di padukan dengan rumah etnis lain selain Buton, yang seharusnya di bangun secara terpisah agar Identitas dan keragaman khasanah rumah adat tradisional di Sulawesi Tenggara itu semakin jelas bukan malah samar-samar. Kasus lain yang lebih aneh adalah peng-karakter-an simbol Naga di Pantai Kamali Kota Bau-Bau, yang seharusnya Naga merupakan simbol binatang langit, bukan simbol binatang bumi.
Mari kita semua membuka jendela hati, dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai dan kearifan budaya lokal, terutama dalam pemaknaan simbolis, baik itu lambang maupun ragam hias, sebagai karya monumental para leluhur yang masih tetap mengawasi tindak tanduk anak cucunya di dunia. Satu hal yang perlu kita ingat bersama bahwa “sesungguhnya manusialah satu-satunya mahluk yang dapat dibunuh dengan sebuah lambang (simbol)” (by Leslie White). Jadi, berhati-hatilah dengan sebuah simbol.

KABANTI AJONGA YINDA MALUSA (KENEPULU BULA)
Mopangurapina motingarapina lipu

Moniyatina bemo humbunina Kota

Siymbau Gowa atoluwu atobungku

Tee malingu saro simbapuyana

Soopodo maka moto penena gunana

Temola hina ampadeyana yilipu

Asadaadaa sakiaia zamani

Owalanda yindamo tee dimbana



Kaapaka karana tongko indapo

Tee walanda yipiya malona yitu

Adika timbu jagani Taranate

Tajagani Gowa tongkana adika bara



Artinya :

Yang berkehendak menyerang negeri

Yang berniat menyerang benteng

Seperti Gowa, Luwu dan Tobungku

Dan segala yang disebut mau menyerang



Tetapi ringkasnya yang teramat gunanya

Dan yang terlebih gunanya di negeri

Tetap selama-lamanya zaman

Belandalah yang tidak ada bandingannya



Sebab karena waktu itu belum ada

Dengan Belanda beberapa waktu lalu

Musim timur kita menjaga Ternate

Menjaga Gowa waktunya musim barat.



Negeri Martabat Tujuh

Alunan syair Kabanti terdengar dari rumah La Mutadi di dekat kawasan benteng Keraton Wolio, Kota Bau-Bau, Pulau Buton. Syair ini adalah salah satu bentuk tradisi lisan di Pulau Buton yang berisikan nasihat dan ajaran kehidupan. Makna lebih dalam dari syair berbahasa Wolio ini umumnya berupa petikan ajaran tasawuf yang diwariskan para leluhur.
Di masa silam, Pulau Buton dikuasai raja Hindu. Raja pertamanya bernama I Wa Kaa Kaa. Saat itu Pulau Buton telah menjadi catatan penting dalam sejarah pelayaran Nusantara. Ini dibuktikan dengan tertulisnya nama Buton dalam Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca. “Nama Islam I Wa Kaa Kaa adalah Zamzabiyah,” kata sejarahwan, La Ode M. Anshari Idris.
Sejarah kemudian menggulirkan cerita baru ketika seorang ahli tasawuf asal Gujarat, Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al Fathani singgah di Pulau Buton. Dia berhasil mengislamkan raja ke enam Buton dan timbang timbangan atau lakilapotan atau halu oleo serta segenap keluarganya.
Menurut La Ode Muchir Raaziki, tidak hanya itu, Syekh Abdul Wahid juga berhasil mengubah tatanan pemerintahan di pulau ini dari kerajaan menjadi kesultanan. Sang raja pun akhirnya berganti nama menjadi Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul.
La Ode Muchir Raaziki adalah ahli tasawuf dan juga mantan imamu Masjid Agung Benteng Keraton Wolio. Sebagai imam dia tentu saja memahami sejarah dan perkembangan ajaran tasawuf warisan para leluhurnya. Dahulu La Ode seakan menjadi pengawal kehidupan jasmani dan rohani di lingkungan benteng Keraton Wolio. “Mereka memang mengayomi seluruh negeri bersama kesultanan,” ujar La Ode Muchir.
Salat Jum’at adalah momen yang selalu dimanfaatkan para syara atau pengurus agama di lingkungan benteng Keraton Wolio untuk bertemu dengan jamaah masjid terutama warga di lingkungan benteng. Dahulu masjid ini menjadi tempat pertemuan Sultan dan perangkat adat dengan rakyat.
Karena itu di bagian depan masjid terdapat dua ruang. Satu ruangan untuk Sultan dan satu lagi untuk Sultan Batin atau lakina agama. Setelah Kesultanan Buton berakhir masjid hanya memiliki lakina agama, imamu masjid, dan para pengurus lainnya.
Panggilan ketiga beduk telah terdengar tanda waktu salat Jum’at telah tiba. Di bale depan, imamu masjid masih berzikir untuk mendapatkan petunjuk dari yang Maha Hidup. Tata cara seperti ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam. Imamu masjid benar-benar mempersiapkan diri dan batinnya sebelum berhadapan dengan jamaahnya.
La Ode M. Anshari Idris menambahkan, adat istiadat di Buton merupakan perkawinan agama dan budaya. Agama menjadi rohani yang mengisi kehidupan warga dan budaya menjadi jasmaninya. Contoh nyata perkawinan agama dan budaya itu adalah upacara adat pernikahan.
Seluruh rangkaian upacara dilakuan dalam bahasa Wolio. Bahasa yang merangkum sekitar 100 bahasa lokal. Pembacaan doa dilakukan secara khusyuk persis yang biasa dilakukan kalangan sufi ketika mereka memohon kepada yang Maha Perkasa.
Buah terindah dari bibit ajaran tasawuf yang ditanamkan oleh Syekh Abdul Wahid dan Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul adalah Undang-undang Dasar Martabat Tujuh. Undang-undang ini dirancang oleh Sultan Dayanu Ikhsanuddin. “Keberadaan manusia adalah karena ciptaan Tuhan. Ada yang namanya alam ketuhanan dan ada alam kehambaan,” tutur La Ode Muchir Raaziki.
Kekayaan ajaran tasawuf juga diperlihatkan manuskrip-manuskrip kuno yang disimpan di rumah Muzaji Mulki di kawasan benteng Keraton Wolio. Dalam manuskrip bertuliskan huruf arab gundul dan melayu ini disampaikan berbagai ajaran tasawuf dari para Sultan. Bahasa melayu muncul dalam manuskrip karena Syekh Abdul Wahid lama bermukim di Johor, Malaysia. Selain itu para penyebar Islam di Pulau Buton juga umumnya berasal dari Negeri Jiran.
Namun harus diakui Undang-undang Dasar Martabat Tujuh adalah karya Kesultanan Buton yang paling fenomenal. Ini karena kesultanan telah menempatkan ajaran tasawuf sebagai pijakan utama. Sehingga mereka bukan lagi berada dalam wilayah syariat seperti yang kini ramai diterapkan di berbagai daerah. Namun, justru berada di derajat yang lebih tinggi, yakni tarekat.
Saat pelaksanaan salat Jum’at semakin dekat. Setelah melaksanakan shalat tahiyatul masjid, imamu masjid langsung memasuki mihrab. Salat Jum’at pun segera dimulai. Khotbah salah seorang syara agama merupakan momen pembekalan batin.
Warga Pulau Buton percaya doa dan harapan yang disampaikan khatib akan membuahkan keselamatan bagi para jamaah karena setiap musibah yang dialami warga di pekan depan biasanya akan menjadi kesalahan sang khatib.
Pemahaman itu telah mereka yakini sejak masa kesultanan berjaya. Karena itu seorang Sultan tak lagi sekadar pemimpin pemerintahan tapi menyerupai seorang wali yang diutus oleh yang Maha Raja. Dengan begitu Undang-undang Dasar Martabat Tujuh pun menjadi pedoman nyata bagi Sultan dan rakyatnya.
Berdasarkan peraturan tertinggi ini mereka membangun kehidupan yang sangat demokratis dan bertanggungjawab. Bahkan, jabatan Sultan pun bukan dicapai karena trah semata tapi dipilih karena akhlaknya oleh anggota dewan yang disebut Patalimbona. Karena itu seorang Sultan bisa dilengserkan bila terbukti melakukan kesalahan.
Kejayaan Kesultanan Buton telah lama berakhir. Undang-undang Dasar Martabat Tujuh pun hanyalah catatan sejarah masa silam. Entah dengan falsafah hidup masyarakat yang menjunjung tinggi masalah agama di atas pemerintah, negara, dan diri pribadi. Inilah Negeri Martabat Tujuh yang senantiasa mengagungkan tasawuf dan para khalifahnya.

Goa Arupalaka di Benteng Keraton Kesultanan Buton


JEJAK Arupalaka mudah dilacak di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, tepatnya di benteng Keraton Kesultanan Buton yang terletak sekitar tiga kilometer selatan Kota Bau-Bau. Dalam sejarah Kesultanan Buton disebutkan, Raja Bone itu pernah menyelamatkan diri ke Buton dari kejaran Sultan Hasanuddin, Raja Gowa.
SALAH SATU jejak sejarah kompleks keraton itu adalah sebuah goa kecil (ceruk) yang terletak dinding tebing sebelah timur benteng keraton. Goa ini menyimpan cerita bahwa Arupalaka pernah bersembunyi di dalamnya tatkala pasukan Sultan Hasanuddin telah menguasai jantung pertahanan Kesultanan Buton.
Bagi tentara Makassar (Gowa), tidak mudah menemukan goa tersebut. Sebab, lokasinya secara alami memang sangat taktis dan penuh kamuflase. Goa Arupalaka seolah menggantung di dinding tebing yang menjadi batas alam benteng Keraton Buton. Bila berdiri di tepi batas alam itu, goa berada di bawah telapak kaki kita.
Konon, dari tepi atas benteng itu Sapati Baluwu bisa menyampaikan suatu informasi penting kepada Arupalaka yang berada di dalam goa. Dan, sang pelarian cukup memasang telinga lebar-lebar tanpa harus memunculkan kepalanya ke tepi “lantai” benteng untuk mendengarkan apa yang disampaikan Sapati Baluwu. Sapati adalah sebuah jabatan kesultanan yang membantu Sultan Buton untuk menangani urusan dalam negeri Kesultanan Buton.
Dalam keadaan normal, goa kecil itu amat sulit dimasuki dari atas tepi jurang tadi. Untuk mencapai tempat persembunyian musuh Sultan Hasanuddin itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bau-Bau telah membangun jalan setapak dari beton. Jalan setapak itu berlokasi di sisi luar benteng menuju arah selatan. Konon, alur jalan setapak inilah yang ditempuh Arupalaka tatkala hendak berlindung di goa tersebut.
Jalan sepanjang kurang lebih 600 meter itu kemudian mentok di sebuah sudut dinding tebing yang sangat terjal. Pintu goa terletak sekitar dua meter di atas ujung jalan setapak sehingga untuk masuk ke dalam goa tentu saja terlebih dulu kita harus memanjat tebing.
Dari bawah terlihat mulut Goa Arupalaka itu bergaris tengah hanya sekitar empat meter (horizontal) dan tinggi (garis vertikal) sekitar tiga meter. Tidak ada yang istimewa pada ceruk tersebut, kecuali lumut dan rumput yang tumbuh secara alami.
Seperti dikatakan La Ode Hafilu dari Dinas Pariwisata Bau-Bau, pihaknya tidak akan membangun tangga ke mulut goa. Bagi pengunjung yang berminat melihat ruang dalam goa, dianjurkan untuk memanjat sendiri seperti halnya yang telah dilakukan Arupalaka lebih dari 300 tahun yang lalu.
BAGI masyarakat Buton, terutama di kalangan bangsawan dan keturunan pejabat kesultanan yang tinggal di sekitar keraton, kedatangan Arupalaka ke Buton tidak sekadar mencari dukungan dalam membendung gerakan ekspansif Sultan Hasanuddin yang ingin menguasai seluruh kerajaan kecil di Sulawesi-termasuk Kesultanan Buton dan Kepulauan Nusa Tenggara- tetapi juga dalam rangka kunjungan kekeluargaan.
Menurut tradisi lisan, dalam darah Arupalaka mengalir darah Buton. Bahkan, bangsawan Bone ini dikatakan masih sepupu satu kali dengan Sapati Baluwu, pejabat kesultanan yang mengamankan Arupalaka ke goa kecil tadi. Di Buton, Arupalaka dikenal bernama Latoondu. Karena itu, goa tempat persembunyiannya disebut Liana Latoondu.
Selain itu, sebagaimana dituturkan Hazirun Kudus, warga Keraton Buton, Latoondu juga pernah diangkat sebagai Lakina Holimombo. Pemberian jabatan itu sekadar untuk menghormati kehadiran Arupalaka di Tanah Buton. Dalam struktur Kesultanan Buton, jabatan lakina merupakan pemimpin sebuah daerah yang terdiri atas beberapa wilayah kecil atau kampung.
Bagi Pemkot Bau-Bau, jejak Arupalaka di kompleks keraton merupakan aset budaya dan sejarah yang harus dilestarikan dalam rangka pengembangan industri pariwisata. “Semua peninggalan sejarah di keraton, kita upayakan tetap terpelihara. Pemeliharaan yang membutuhkan dana besar, seperti pemugaran benteng, tentu kita harapkan bantuan pusat,” kata Wali Kota Bau-Bau Amirul Tamim.
Selain diarahkan menjadi kota perdagangan dan jasa, lanjut Amirul, Bau-Bau akan terus diupayakan menjadi salah satu kota tujuan wisata di kawasan timur Indonesia. Potensi pariwisata Kota Bau-Bau bukan hanya simbol-simbol kejayaan di masa lampau berupa benteng keraton, masjid agung, atraksi budaya, dan lain-lain, tetapi juga keindahan alam kota itu yang menciptakan daya tarik tersendiri.
Pesona alam Kota Bau-Bau justru dapat dinikmati dari kompleks Keraton Buton yang lokasinya memang terletak di lereng bukit berbatu. Dari ketinggian tersebut hampir separuh wilayah fisik kota dan pelabuhan laut bisa terjangkau pandangan mata.
Hamparan perairan Teluk Bau-Bau merupakan salah satu daya pesona pemandangan alam itu. Keindahan teluk ini nyaris sempurna dengan keberadaan Pulau Makassar di tengahnya. Pulau berpenduduk sekitar 5.000 orang itu justru melengkapi sejarah kehadiran Arupalaka di Keraton Buton beberapa abad lampau.
Pulau yang luasnya 1,04 kilometer persegi itu menjadi tempat pengasingan orang- orang Makassar yang ditawan pasukan Admiral Speelman ketika membebaskan Kesultanan Buton dari penaklukan Kerajaan Gowa. Penyerangan Buton yang dipimpin langsung Raja Gowa, Sultan Hasanuddin, dilakukan Maret hingga Mei 1655 karena dipicu tindakan Sultan Buton yang melindungi Arupalaka.
Kecuali Pulau Makassar, sebagian pantai daratan Buton dan Pulau Muna yang berbatu-batu juga menyuguhkan pemandangan yang memesona. Agak jauh melintasi laut biru, dari benteng keraton samar-samar tampak Pulau Kabaena yang gunungnya menjulang tinggi.
Panorama alam yang indah itu tentu saja menjadi sumber inspirasi sultan-sultan Buton di masa lalu dalam menjalankan sistem pemerintahan yang berlandaskan falsafah bolimo karo somanamo lipu (kepentingan lipu/negeri harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau kelompok).
LOKASI Goa Arupalaka dan kompleks benteng Keraton Buton berada dalam wilayah administrasi Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau. Penduduk kelurahan ini berjumlah 376 keluarga atau 1.688 jiwa. Sekitar 99 persen penduduk bermukim di dalam benteng keraton dan hidup sebagai pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI dan Polri, serta pensiunan. Sebagian besar warga keraton ini adalah keturunan sultan dan aparat perangkat Kesultanan Buton di masa lalu.
Kehidupan umumnya warga keraton itu terlihat sederhana. Sebagian besar dari 295 unit rumah tinggal masih berupa rumah panggung dengan gaya arsitektur rumah adat Buton. Konstruksi rumah kayu itu tidak menggunakan paku sebagai pengikat sambungan. Suasana pedesaan masih kental mewarnai kelurahan tersebut.
Keraton Buton hampir setiap hari didatangi pengunjung dari luar Kota Bau-Bau, baik perorangan maupun kelompok. Namun, penduduk setempat tidak merespons kedatangan pengunjung itu sebagai sumber ekonomi, misalnya dengan membuka kedai kopi atau menjual minuman segar.
Tidak ada juga oknum warga yang menjadi tukang pajak bagi setiap kendaraan yang memasuki wilayah keraton. Kendaraan umum maupun pribadi bebas keluar masuk keraton. Dengan demikian, pengunjung obyek wisata utama di Kota Bau-Bau itu merasa aman dan nyaman, tanpa terusik oleh hal-hal yang tak perlu.
Lurah Melai Abdul Salam mengatakan, pihaknya sebetulnya sering berpikir akan menarik pungutan terhadap setiap pengunjung keraton untuk kas kelurahan dan sekaligus membuka lapangan kerja. Namun, hal itu tidak pernah diwujudkan karena pengelola kompleks keraton bukan kelurahan, melainkan pemerintah kota melalui Dinas Pariwisata.
Pada waktu-waktu tertentu, di kompleks Keraton Buton berlangsung peristiwa budaya yang berkaitan dengan perayaan hari-hari besar Islam, seperti mauludhu (maulid Nabi Muhammad SAW), bacaana nisifu (membaca Surat Yasin di bulan Syakban), malona kunua (Nuzulul Quran), 1 Muharam, dan lain-lain. Semua upacara itu dilakukan masyarakat warga keraton secara berkelompok atau pribadi.
Kepala Dinas Pariwisata Bau-Bau Muh Djudul mengemukakan, pihaknya berencana mengadakan semacam festival budaya yang diikuti seluruh masyarakat Kota Bau-Bau, termasuk warga keraton sendiri. Festival itu kemungkinan dilaksanakan mulai Agustus tahun ini dalam rangka merayakan hari Kemerdekaan RI.
Salah satu atraksi budaya yang akan ditampilkan dalam festival itu adalah pesta rakyat pekandekandea. Warga yang menjadi peserta membawa talam besar berisi aneka ragam makanan tradisional Buton. Sebagai kelaziman, pengunjung pesta harus mencicipi isi talam tersebut, lalu memberikan tip uang kepada pemilik talam yang biasanya diperankan oleh gadis pilihan.
Beberapa tahun lalu ketika Kabupaten Buton masih utuh dan Bau-Bau masih berstatus kota administratif, Pemerintah Daerah Buton setiap tanggal 12-13 September menyelenggarakan Festival Keraton Buton (Palace Festival) yang digelar di keraton tersebut. Setelah Saidoe mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Buton, kegiatan yang menyedot perhatian masyarakat itu terhenti dengan sendirinya.
Wilayah Buton saat ini telah dipenggal-penggal menjadi empat daerah otonom, yaitu Kota Bau-Bau, Kabupaten Buton, Kabupaten Wakatobi, dan Kabupaten Bombana. Wilayah Kabupaten Buton praktis tinggal sebagian kecil daratan pulau penghasil aspal alam itu.
Eks wilayah Buton yang diharapkan mampu berfungsi sebagai lokomotif pembangunan di daerah kepulauan di Sulawesi Tenggara itu adalah Kota Bau-Bau. Kota tua ini merupakan pelabuhan transit bagi semua kapal penumpang milik PT Pelni yang beroperasi di kawasan timur Indonesia.
Kota Bau-Bau juga sudah memiliki Bandar Udara Betoambari yang pada tahap permulaan pengoperasiannya baru didatangi pesawat jenis Fokker-50 (50 tempat duduk) dua kali seminggu. Rute penerbangannya adalah Makassar- Bau-Bau. Rute ini ditempuh sekitar 50 menit.

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar