Masjid Nabawi

Masjid Nabawi
يا سيدي يا رسول الله يا سيدي يا رسولَ الله - يا من له الجَاهُ عند الله إنّ الْمُسِيْئِيْنَ قدْ جَاءُوك - بالذّنْبِ يَسْتَغْفِرُونَ الله يا سيّد الرُّسْل هَادِيْنـا - هَيـّا بِغَارة إِلَيْنا الآن يا هِِمَّة السّادات الأقْطاَب- مَعَادِن الصِّدْقِ والسِّرّ نَادِ المُهَاجِرصَفِيّ الله -ذاك ابْنُ عيسى أبَا السَّادات ثُمّ المُقَدّم ولِيّ الله - غَوْث الوَرَى قُدْوَة القَادات ثمّ الوَجِيْـه لِديْنِ الله - سَقّافَنا خَارِق الْعَادَات والسّيّد الكامِل الأَوّاب - العَيْدرُوس مَظْهَر القُطْر قُومُوا بِنا واكْشِفُوا عَنّا - يا سَاداتِي هذِه الأَسْوَ وَاحْمواُ مَدِيْنَتْكُم الغَنَّا - مِنْ جُمْلةِ الشَّرّ والْبَلْوَى

Senin, 05 Juli 2010

Gede Prama ; Menikah dengan Diri Sendiri

Buku harian saya sebagai konsultan manajemen, tidak selamanya berisi catatan yang hanya terkait dengan prestasi perusahaan. Demikian luasnya bidang yang dicakup oleh manajemen, kerap ia merambah ke daerah yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Kadang, saya malah harus menjadi konsultan perkawinan bagi klien. Terutama, kalau mahligai pernikahan klien terganggu, dan bisa mengancam prestasi perusahaan.
Ini juga saya alami beberapa waktu lalu, ketika seorang klien menyeleweng, kemudian mengundang protes berat isterinya. Kejadian ini merambah wilayah konsultasi saya, karena sebagian pemegang saham yakin, kalau hanya saya yang bisa meyakinkan play boy kelas kakap terakhir.
Mirip dengan bentuk hubungan manusia lainnya – baik kerja dalam team, menata organisasi, dll – perkawinan akan senantiasa diwarnai oleh friksi dan perbedaan. Sebagian orang bahkan meyakini, di situlah letak seninya berhubungan dengan manusia.
Bagi saya, jangankan menikah dan bekerjasama dengan orang lain, kalau ada kesempatan untuk menikah dan bekerjasama dengan diri sendiri, saya tidak yakin kalau semuanya akan berjalan amat mulus. Penolakan, perbedaan, ketidakcocokan akan senantiasa ada.
Berbeda dengan bentuk hubungan bersama orang lain – di mana kalau tidak cocok kita bisa mencari penggantinya – dengan diri sendiri, kita tidak punya pengganti. Tubuh dan jiwa yang kita miliki hanyalah yang kita punya sekarang.
Dengan kesadaran terakhir, kita tidak punya pilihan menolak, cerai atau berpisah dengan diri sendiri, satu-satunya pilihan: menikah dengan sang diri.
Manusia-manusia yang hidupnya kena stres, depresi, masuk rumah sakit jiwa atau bunuh diri sekalian, adalah sebentuk orang yang pernikahannya dengan sang diri gagal.
Sebaliknya, pengalaman saya bertutur, kebanyakan orang yang berhasil hidupnya, sering ditandai oleh kemesraan yang mengagumkan dengan sang diri. Kelemahan, kekurangan, bahkan cacat tubuhnya sekalipun, tidak menjadi penghambat, malah menjadi sarana kemajuan yang mencengangkan.
Diana Golden – kalau saya tidak salah dalam mengeja namanya – adalah seorang pembicara publik yang amat mengagumkan bagi saya. Betapa tidak mengagumkan, dengan kedua kaki lumpuh yang dibantu tongkat, ia melakukan presentasinya di depan panggung secara demikian bergairah. Bergerak bebas dari satu panggung ke panggung lain. Kadang malah duduk penuh percaya diri di atas meja. Menguasai panggung tanpa sedikitpun keraguan.
Demos Thenes, seorang pembicara publik terkemuka dalam sejarah Yunani, awalnya adalah penderita gagap dalam kadar yang sangat akut. Bertahun-tahun ia mendidik dirinya dengan meletakkan batu ke dalam mulutnya sambil berbicara.
Abraham Lincoln, mengalami cobaan hidup secara berulang-ulang. Termasuk pernah kena depresi berat sampai nyaris masuk rumah sakit jiwa. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Meminjam argumennya Iris Barrow dalam Make Peace With Yourself, ‘many people suffer all their lives because they do not accept and come to terms with the feelings of anger, frustration, resentment, fear, despair…which they experience‘.
Belajar dari sini, tidak hanya kelebihan dan kehebatan yang harus kita peluk dan terima apa adanya. Kekurangan seperti marah, frustrasi, takut dan sejenispun sebaiknya kita peluk dan terima. Ini penting, sebab banyak penyakit kejiwaan bersumber pada penolakan terhadap kekurangan-kekurangan terakhir.
Bayangkan, saya akan frustrasi berat bila melihat diri saya yang lagi marah dibandingkan kesabaran mengagumkan ala Mahatma Gandhi. Saya akan menjadi minder melihat rekaman presentasi saya, jika dibandingkan kehebatan seorang Anthony Robbins.
Untuk itu, saya belajar tidak hanya menjadi pemaaf buat orang lain, tetapi menjadi pemaaf buat diri saya sendiri. Sebagaimana pernah ditulis Catherine Ponder dalam The Dynamic Law of Healing : ‘Forgiveness can unblock whatever has stood between you and your good‘.
Dengan kata lain, sikap pemaaf bisa membuka banyak pagar yang memisahkan diri kita dengan sejumlah kesempurnaan yang telah ada di dalam.
Dalam pergaulan sehari-hari, melalui raut muka, sinar mata, senyum orang, percaya diri, saya bisa membedakan antara orang-orang yang pemaaf dengan dirinya sendiri, dengan orang-orang yang membenci dirinya.
Dalam bekerja, bergaul maupun dalam presentasi, penguasa-penguasa keberhasilan umumnya adalah manusia yang tidak hanya pemaaf dengan dirinya sendiri, melainkan juga menikah akur dengan sang diri.
Perhatikan presentasi Diana Golden yang mengagumkan, lihat ekspresi mata Larry King di CNN, amati kepemimpinan Cory Aquino yang relatif tidak terbebani oleh pengalamannya yang hanya mantan ibu rumah tangga, semuanya menunjukkan pernikahan mengagumkan dengan sang diri.
Dalam sebuah sesi meditasi, seorang guru pernah bertutur ke saya : ‘your mind is a wonderful gift. Use it to work for you, not against you‘.
Nah, yang dimaksud mind di sini mencakup baik kelebihan maupun kekurangan kita. Ia akan menjadi kekuatan yang membantu, bila kita berhasil berpelukan mesra dengannya.
Tidak bisa dibayangkan, kemana larinya keberhasilan, jika setiap hari kita mau ‘bercerai’ dengan rasa marah, takut, frustrasi yang datang dari dalam diri.
Dengan isteri, setelah cerai kita bisa atur untuk tidak bertemu lagi. Dengan marah dan rasa takut, ia akan datang dan datang lagi.
Anda boleh mengambil sikap apapun, namun saya sedang mendidik diri untuk menikah dengan diri saya.

Mensyukuri Neraka

walaupun Gede Prama adalah sosok umat hindu bali, namun kata-kata bijaknya banyak menjadi inspirasi berbagai kalangan termasuk umat islam sendiri. perkataan yang dapat menjadi inspirasi tentunya tidak ada kaitannya dengan ajaran agama melainkan nasehat dalam menjalani kehidupan yang fana ini.
saya adalah salah satu penggemar beliau, sosok beliau telah banyak memberi inspirasi bagi saya karena orang seperti Gede Prama sudah sangat langka bukan hanya sebagai motivator melainkan hampir semua perkataanya lahir dari pengalaman hidup beliau (sehingga bukan hanya nasehat kepada orang lain saja tetapi diri tidak menjalani melainkan jalan beriringan).
berikut adalah kutipan dari penjelasan beliau yang saya ambil dari Kaskus;

Entah kapan dimulai, dan siapa yang memulainya tidaklah terlalu jelas. Yang jelas, ada banyak sekali manusia yang amat rindu akan surga dan amat takut sama neraka. Dari anak kecil sampai orang tua, dari orang desa sampai orang kota, kebanyakan rindu surga dan takut neraka.
Jujur harus diakui, sayapun pernah lama dilanda kerinduan dan ketakutan semacam itu. Cuman, setelah menelusuri lorong-lorong kehidupan dengan kedalaman kontemplasi tertentu, rupanya kita manusia sudah terlalu lama manja dengan buaian surga, dan dibuat takut oleh ancaman neraka. Untuk kemudian kehilangan dua kesempatan emas dalam hidup. Kesempatan emas pertama, manusia kehilangan kekuatan amat besar yang bernama keikhlasan. Kesempatan emas kedua, justru melalui tempaan-tempaan neraka yang ditakuti (baca : masalah) kemudian manusia jadi kuat dan hebat.
Konsepsi surga-neraka, sebagaimana kita tahu, memang memiliki banyak sekali manfaat. Cuman, sebagaimana wajah dualitas manapun, konsepsi surga-neraka membuat tidak sedikit manusia kemudian “berdagang” dengan kehidupan. Sebagai akibatnya, manusia kehilangan keikhlasan sebagai kekuatan kehidupan.
Ada cerita tentang sebuah desa yang tidak berhasil memotong pohon besar mengganggu. Karena berbagai peralatan tidak berhasil membuat pohon tumbang, dicurigai pohon ini ditunggui mahluk dengan kekuatan metafisik tertentu. Dicarilah orang “pintar” yang bisa membantu. Ternyata, ada orang berpenampilan sederhana yang bisa memotong pohon tadi dengan gergaji biasa. Orang terakhir hanya memotong pohon tadi dengan kalimat permulaan yang berbunyi : “dengan keikhlasan di depan Tuhan, tidak ada yang tidak bisa dilakukan”.
Ternyata kinerja orang sederhana ini terdengar ke banyak tempat. Di samping karena kekaguman masyarakat, juga kerena hadiah besar yang telah diterimanya. Di desa seberang yang memiliki problema yang serupa kemudian memanggilnya. Dan setelah memotong pohon dengan teknik dan alat yang sama, ternyata berkali-kali hanya berujung kegagalan. Ada yang berubah, katanya setelah berulang kali gagal, hadiah rupanya melenyapkan keikhlasan!
Ini memang hanya sebuah cerita, namun layak direnungkan kalau keikhlasan bukanlah sumber kelemahan. Ia sejenis tenaga dalam yang bisa membuat manusia jadi demikian perkasa. Terinspirasi dari banyak cerita-cerita sufi, demikian juga dari puisi-puisi Gibran dan Rumi, serta kualitas pemimpin-pemimpin yang masih berkuasa ketika badannya sudah disebut meninggal oleh dokter, keikhlasan sudah menjadi tema kehidupan yang kuat sejak dulu.
Kesempatan emas kedua yang dibuat lenyap oleh konsepsi surga-neraka, adalah kekuatan-kekuatan yang bisa dihadirkan oleh keseharian yang penuh dengan “neraka”. Masalah, godaan, tantangan, persoalan adalah rangkaian hal yang ditakuti banyak manusia sebagaimana mereka menakuti neraka. Semakin sedikit wajah neraka seperti ini yang hadir, semakin baik bagi para pengagum surga.
Ternyata kehidupan bertutur dan bercerita lain. Sebagaimana pernah dituturkan secara apik oleh M. Scott Peck dalam The Road Less Travelled, mereka-mereka yang menakuti neraka ternyata tumbuh jadi manusia lemah dan lembek. Sebagian bahkan terkena penyakit kejiwaan yang menyedihkan. Di bagian awal buku inspiratif ini Scott Peck menulis : ?This tendency to avoid problems and emotional suffering inherent in them is the primary basis of all human mental illness?. Kecenderungan untuk lari dari masalah dan penderitaan adalah fundamen utama dari kondisi mental yang tidak terlalu sehat.
Bercermin dari sini, neraka tidaklah seburuk bayangan banyak orang. Dalam lapisan-lapisan kejernihan yang lebih dalam, neraka adalah tempat pemurnian. Sebuah tempat di mana sampah-sampah kehidupan diolah menjadi pupuk-pupuk berguna. Sebutlah masalah keseharian seperti dimarahin atasan. Sesaat memang membuat yang bersangkutan kesal, tetapi kemarahan atasan sedang membuatnya jadi kuat. Atau memiliki isteri yang cerewetnya minta ampun, ia memang sengaja hadir untuk membuat sang suami jadi sabar. Demikian juga dengan masalah lain.
Yang jelas, lari dari persoalan memang enak sebentar, tetapi ia membawa dampak jangka panjang yang negatif. Meminjam argumen Scott Peck dalam karya di atas, kesukaan untuk lari dari masalah dan tanggung jawab adalah ciri utama dari manusia-manusia yang terkena penyakit character disorder. Lebih dari sekadar terkena penyakit kejiwaan tadi, tantangan dan masalah sebenarnya serupa dengan tangga-tangga kedewasaan dan kematangan. Semakin tinggi dan besar masalahnya, itu berarti kaki sang hidup sedang melangkah di tempat yang juga tinggi.
Surga (baca : kebahagiaan) memang udara kehidupan yang indah dan segar, tetapi ia terasa jauh lebih indah dan segar jika seseorang pernah melalui tangga-tangga neraka. Serupa dengan lingkaran Yin-Yang yang di belah dua, awalnya memang ada beda jelas dan tegas antara surga dan neraka. Surga itu berisi senyuman, neraka berisi tangisan. Namun, di tingkatan-tingkatan kejernihan, sekat dan pemisah tadi sudah tidak ada. Suka-duka, tangisan-senyuman, sukses-gagal hanyalah aliran kehidupan yang datang dengan peran masing-masing. Persis seperti siang yang berganti malam dan juga sebaliknya, setiap pergantian berjalan tenang dan tenteram. Dan jangan lupa, kualitas hidup di dalam diri seperti ini hanya bisa dicapai oleh manusia yang mendalami hakekat syukur akan adanya neraka.

Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahawa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?

Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahawa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.

JAWABAN

Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surah. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeza-beza itu pasti memiliki dimensi yang berbeza pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeza-beza antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan getaran dan darjat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeza. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeza dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu bererti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat neraka tertentu.

Jika Naar kita maknakan secara umum, justeru menjadi zalim, kerana faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak boleh disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeza dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surah Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeza. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, kerana didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeza. Kerana yang terakhir ini berhubungan dengan kelayakan keimanan hamba kepada Allah, bahawa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahawa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kelayakan keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Roh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fizik dan siksa fizik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kelayakannya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.

Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga mahupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, kerana perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualiti moral seorang pekerja di tempat kerja juga berbeza-beza, walau pun teknik dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari wang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan mencintai pekerjaan dan mencintai ketuanya tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualiti moral dan jadual kerjanya yang berbeza. Bagi seorang ketua yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, dibandingkan dengan para pekerja yang hanya mencari untung belaka, sehingga mereka bekerja tanpa roh dan spirit yang luhur.

Kerana itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kelayakan rohani dan spiritual yang berbeza dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeza dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan biologi seksual haiwan.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan darjat kema’rifatan yang berbeza-beza. Kerana nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fizik dengan kenikmatan fizik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang boleh menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam proses kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan simbol berbeza-beza, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kelayakan yang bersifat lahiriyah mahupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka persepsi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu haiwaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang ideal dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang boleh menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kelayakan syurgawnya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Kerana hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “kerana Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira kerana syurgaNya.

Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang boleh wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda boleh merenungkan sendiri, betapa tundingan-tundingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, boleh terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

Pengamalan Tasawuf Ala Al Habib Luthfi

Berikut ini petikan wawancara  dengan Al Habib Luthfi bin Yahya. Dalam wawancara kali ini Al Habib menjelaskan bagaimana tasuf dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa pandangan-pandangan Al-Habib tentang tasawuf?
Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.
Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.
Bukankah hal semacam itu sudah diajarkan orang tua kita sejak kecil?
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi SAW.
Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.
Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang aqil baligh, kita harus bener-bener menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jawa anak-anak kita.

Bagaimana sikap kita berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang sudah carut maut?

Mampukah ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang demikian itu? Ketika kita asik-asiknya bergurau, maka berhentilah sejenak. Kita koreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu.
Lalu kita tingkatkan dengan tutur sikap kita terhadap orang tua. Ketika kita makan bersama orang tua. Janganlah kita menyantap lebih dahulu sebelum bapak-ibu kita memulai dulu. Janganlah kita mencuci tangan dahulu sebelum kedua orang tua kita mencuci tangannya. Makanlah dengan memakai tangan kanan. Dan jangan sampai tangan kiri turut campur kecuali itu dalam kondisi darurat. Sebab Rasulullah tak pernah makan dengan kedua tangannya sekaligus. Ini sudah tasawuf.

Apa yang sebenarnya menarik dari Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia tasawuf?

Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah SWT.
Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah.
Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karat tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu.
Lantas dari mana kita mesti memulai untuk pembersihan hati tersebut?
Ikutlah dahulu ajaran fiqih yang tertera dalam kitab-kitab fiqh. Seperti arkanus shalat (rukun-syarat sholat), lalu adabut shalat, adabut thaharah dan seterusnya. Marilah itu semua kita pelajari dan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita diundang untuk menghadiri acara walimah di sebuah gedung misalnya, maka kenakanlah pakaian yang bagus-bagus.
Sebab itu demi menghormat dan untuk menyaksikan kehalalan kedua mempelai di pelaminan. Untuk menghormati acara tersebut, kita menggunakan pakaian yang rapi. Sebab pada hakikatnya, kita telah menghormati Allah SWT yang telah menghalalkan hal tersebut.
Kita juga menghormati yang telah mengundang kita, serta menghormati sesama kita dalam gedung atau dalam jamuan tersebut. Kalau kita bisa menyaksikan aqdun nikah (akad nikah) secara demikian, mengapa kalau kita menghadap langsung kepada Allah SWT, tidak pernah melakukan penghormatan yang demikian itu?

A-Habib dikenal sebagai mursyid thariqah, tetapi kelihatan gemar memainkan alat musik?
Di sana kita akan menemukan kekaguman. Ilmullah yang ada dalam music itu sendiri. Diantaranya notnya itu hanya ada 7; do re mi fa sol la si do, do si la sol fa mi re do. Sedangkan oktafnya ada 7, suara miringnya 5, jadi ada 12. Yang memakai adalah di seliruh dunia, dan mengeluarkan lagu yang beragam. Itu merupakan satu hal yang sangat menarik.
Ketika orang mendengarkan musik, mereka bisa menangis dan tertawa, bersedih dan bersuka ria. Nah, yang berupa benda saja bisa menghasilkan efek semacam itu. Lantas bagaimana kalau kita tengah mendengar lantunan  ayat Al-Qur’an sedang dibacakan? Mesti akan jauh lebih dari itu



sumber;crew Habibluthfiyahya.net

CIA mengumumkan: “Usia Israel Tinggal 20 Tahun Lagi”

Dinas Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dalam laporan rahasianya menyebutkan runtuhnya Rezim Zionis Israel dalam 20 tahun mendatang. Demikian dilaporkan Situs Palestina Today. Laporan CIA terkait masa depan Israel dirilis di saat Menteri Industri dan Perdagangan rezim Tel Aviv, Binyamin Ben Eliezer mengaku kepada Koran Yediot Aharonot bahwa kebijakan dalam dan luar negeri rezim ini mengalami kebuntuan.

Kondisi buruk Rezim Zionis ini membuat para pendukungnya tidak dapat menyembunyikannya dan terpaksa mengakui kondisi tersebut. Dalam berbagai laporannya mereka juga mengisyaratkan hal ini. Laporan CIA menjelaskan bahwa Israel hanya dapat bertahan selama 20 tahun lagi. Laporan ini menjelaskan secara nyata pandangan para elit politik Barat soal runtuhnya Israel.

CIA menyebut Israel akan bernasib sama dengan rezim Apartheid Afrika Selatan. Sikap Barat ini belum pernah terungkap sebelum kekalahan memalukan Israel dari Hamas dan Hizbullah. Namun setelah kekalahan itu, berbagai laporan dinas rahasia Barat menyebutkan nasib pasti Israel dan keruntuhan rezim ini.

Krisis di Israel memang cukup parah sehingga sejumlah petinggi rezim ilegal ini pada tahun-tahun terakhir mengakui proses runtuhnya rezim Tel Aviv. Menurut mereka, proses ini kian cepat mengingat kondisi dalam negeri Israel yang dilanda berbagai krisis.

Presiden Israel, Shimon Peres menyebutkan friksi tajam di dalam negeri Israel dan menandaskan, jika friksi ini terus berlanjut maka Israel akan berakhir seperti Uni Soviet, Chekoslovakia dan Yugoslavia. Ditambahkannya, Israel akan runtuh dari dalam.

Mantan ketua parlemen Israel (Knesset) Avraham Burg beberapa waktu lalu kembali menekankan bahwa Israel tengah menuju kehancuran. Avraham Burg manambahkan, Israel sebagai rezim arogan dan haus perang akan berakhir seperti Sparta di Yunani. Menurut Burg, praktisnya hitungan mundur bagi hancurnya Israel telah dimulai.

Pernyataan para pejabat Israel dan laporan CIA membuktikan keputusasaan para pemimpin dan pendukung Israel. Dan sekali lagi, usia rezim ilegal Israel telah memasuki masa istirahat dan tak lama lagi Tel Aviv akan terhapus dari peta dunia.

Minggu, 04 Juli 2010

Menurut Habib Lutfi Bin Yahya dari Pekalongan, Gusdur Seorang Habib

Siapa yang tidak mengenal sosok KH.Abdurahman Wahid atau lebih kenal dengan nama Gus Dur, kiayi nyentrik yang pernah menjabat sebagai kepala Negara Indonesia itu memang menjadi sorotan dari berbagai pihak bahkan hingga beliau telah meninggal dunia (Wafat) Gus Dur selalu menjadi kotroversial.

Berbagai kebijakan maupun stetmen Gus Dur memang selalu menjadi Kontroversial, hal ini menyebabkan beliau banyak mendapatkan kritik namun juga simpatisan terutama dikalangan pesantren.

Kendati demikian, sebagai warga Negara dan umat Islam kita wajiba bersyukur karena Gus Dur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

Seputar nasab Abdurrahman Wahid (Gusdur) dan juga para leluhurnya. bahwa secara nasab, Gusdur adalah seorang Saadah atau Alawiyin dan nasab keluarga ini telah dipublikasikan di dalam kitab Talkhis karya Abdullah bin Umar Assathiri. Sumber ini konon telah diteliti dan direstui oleh Rais Aam Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al-Muktabaroh An-Nahdliyyah oleh KH. Habib Lutfi Ali Yahya asal Pekalongan. Menurut sumber itu, nasab lengkap Gusdur adalah sebagai berikut :


KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

bin

KH. Abdul Wahid Hasyim

bin

KH. Hasyim Asy’ari

bin

KH. As’ari

bin

Abu Sarwan

bin

Abdul Wahid

bin

Abdul Halim

bin

Abdurrohman (P. Sambud Bagda)

bin

Abdul Halim (P. Benawa)

bin

Abdurrohman (Jaka Tingkir)

bin

Ainul Yaqin (Sunan Giri)

bin

Ishak

bin

Ibrohim Asmuro

bin

Jamaludin Khusen

bin

Ahmad Syah Jalal

bin

Abdulloh Khon

bin

Amir Abdul Malik

bin

Alawi

bin

Muhammad Shohibul Mirbat

bin

Ali Choli’ Qosam

bin

Alawi Muhammad

bin

Muhammad

bin

Alawi

bin

Ubaidillah

bin

Ahmad Al-Muhajir Ilallah

bin

Isa Arrumi

bin

Muhammad Annaqib

bin

Ali Al-’Uroidi

bin

Ja’far Shodiq

bin

Muhammad Al-Baqir

bin

Ali Zaenal Abidin

bin

Husein

putra

Siti Fathimah Az-Zahro

binti

Rasulillah, Muhammad saw


Informasi di atas melengkapi silsilah Gusdur sampai ke Rasul saw. Sejujurnya, saya tidak tahu apakah nasab ini memang legitimate dan benar-benar telah mendapat pengakuan secara aklamasi dan konkrit dari pengurus Rabithah Alawiyah yang juga bermarkas di Jakarta.

Semoga saja informasi ini bisa menjadi masukan yang bermanfaat bagi pihak-pihak terkait yang ini sedang berbeda pandangan. Jika benar adanya, maka perselisihan yang terjadi antara Habib Rizireq, Habib Seggaf dan Habib Gusdur sebenarnya adalah persoalan yang bisa diselesaikan secara damai dan kekeluargaan, mengingat Gusdur sendiri adalah member of the family

Menurut hemat saya, sebagai seorang Habib, Rizieq Shahab lebih melihat pada pentingnya seorang Muslim untuk mempraktekkan ajaran agama berdasarkan fundamentalisme, alias menjadi muslim-fundamentalis. Sedangkan Habib Seggaf lebih melihat pada pentingnya sisi ke-muslim-an dan ke-Indonesia-an, alias menjadi muslim-nasionalis. Adapun Habib Gusdur lebih melihat kepada sisi liberalisme beragama, alias menjadi muslim-liberalis.

Untuk itu, ketimbang harus emosional, maka alangkah baiknya jika pikiran masing-masing pihak bisa diwacanakan ke dalam suatu forum, lalu didiskusikan layaknya pria dewasa yang memiliki basis moral dan intelektual Islami


Kamis, 01 Juli 2010

Ramalan : Indonesia akan perang dan menguasai Malaysia 15 tahun



BOLEH percaya boleh tidak, tapi inilah ramalan Paul Juan Valdez tentang dunia, Asia, dan lebih khusus lagi Indonesia. Namun yang menarik, disebutkan bahwa Negara besar berpenduduk padat di Asia Tenggara akan berperang dengan Negara kecil tetangganya (Malaysia?), dan akan menguasai negeri kecil itu selama 15 tahun.

Ramalan Juan Valdez ini sebenarnya sangat panjang mencakup kejadian-kejadian di seluruh dunia. Namuan tentu yg terpenting kita tahu ya kejadian di Asia, khususnya Indonesia dan sekitarnya.
Perang dunia ketiga akan dipicu terbunuhnya seorang presiden di sebuah Negara di kawasan Timur Tengah. Tapi perang besar ini akan menjadi besar sekali setelah 2 tahun terjadi perperangan di Timur Tengah karena Negara
besar di Utara (Amerika?/Rusia? atau keduanya?) akan ikut campur dalam perperangan ini setelah negaranya banyak terjadi ledakan mobil dan ledakan bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang dari Negara Timur Tengah ini.
Perang ini akan melibatkan 12 negara didunia dan akan berlangsung 9 tahun.
Ledakan besar buatan manusia (nuklir?) akan terjadi 5 kali dalam sejarah yang pada akhirnya akan membunuh 30 juta orang total dan semuanya hanya terjadi di Asia. Kita sudah menyaksikan 2 kali diledakan di Jepang. Dan akan ada 3 kali lagi.
Di Asia, ada tiga perang besar, ini mulai dari negara
terbesar di Asia (Cina?) pada tahun yang sama. Negara terbesar ini meledakan satu Negara kecil yang sudah berperang selama 50 tahun dengannya (Taiwan?).
Perang besar lainnya, di negara yang baru saja terjadi revolusi berdarah (Indonesia?).
Jika benar apa yang dia tulis maka selebihnya mengenai Indonesia tinggal tangisan. Malaysia akan menjadi satu dengan Indonesia karena dijajah oleh negara besar itu juga. Selama 15 tahun Indonesia dan Malaysia akan digabung dijadikan satu dan dijajah negara raksasa ini.
Akan terbunuh total 21.000.000 warga asli yang sebagian besar dari
Indonesia. Keadaan akan sangat sangat brutal karena akan banyak penyakit yang disebar lewat udara disemburkan lewat burung yang terbuat dari besi.
Sejarah terhitam dalam negara yang dijajah ini akan merubah wajah
negara ini selamanya. Setelah 15 tahun dijajah, negara ini akan
akhirnya dipimpin oleh seorang yang bukan asli dan pemimpin ini melakukan revolusi keempat mengeluarkan penjajah dengan damai. Akan ada 20 orang yang terbunuh dalam revolusi damai ini.
Pemimpin baru ini akan memimpin selama 12 tahun. Seorang pemimpin berkulit sangat gelap akan mengantikannya membawa negara ini menjadi negara contoh teladan di Asia. Dia akan memimpin selama 8 tahun dan akan digantikan oleh seorang yang sangat keras berdarah bangsawan.
Negara mengalami sedikit kemunduran selama 4 tahun masa kepemimpinannya dan akan digantikan oleh seorang bukan asli negara itu kembali, segala menjadi baik dan negara ini akan dibagi menjadi 8 negara bagian dan masing-masing nantinya akan dipimpin oleh gubenur gubenur untuk setiap negara bagian dan satu presiden.
India dan Pakistan akan ikut dalam perang besar tetapi Ledakan besar buatan
manusia tidak akan terlaksana dikedua negara ini, sampai tentara dari
negara besar tetangga masuk dan menjajah mereka selama 8 tahun. Setelah itu India dan Pakisatan akan terbagi mejadi 3 negara.
Australia, Iceland, Antarika yang nantinya jadi tempat pemukiman yang paling aman. Irak akan mengecil wilayahnya karena Kuwait akan mendapatkan setengah dari wilayahnya.
Beberapa negara akan hilang karena menjadi satu dengan penjajahnya. Ada yang menjadi banyak wilayahnya, ada yang mengecil. Akan muncul 2 agama baru yang makin banyak pengikutnya selama 300 tahun.
Perang Besar keempat akan mulai 200 tahun setelah perang ketiga dan
akan dimulai di Afrika karena 2 negara besar ingin memperebutkan